Mahasiswa UGM Lakukan Riset Banyu Panguripan untuk Solusi Air Bersih Berkelanjutan

Empat mahasiswa UGM yang meneliti Banyu Panguripan di Kudus ini

“Setiap warga berkesadaran untuk menjaga ekosistem di sekitar belik dan sendang, tidak melakukan pemborosan atau eksploitasi, serta memelihara tradisinya,” ungkapnya.

Observasi yang berlangsung pada bulan Juli dan September 2023 itu meriset sebanyak 14 belik dan sendang di Kudus. Pihaknya juga bekerjasama dengan beberapa lembaga terkait. Di antaranya juru pelihara, tokoh masyarakat, sejarawan, Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Perumda Tirta Muria (PDAM), Pemerintah Desa Menawan, serta Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus.

Tiyo menjelaskan, dari analisis yang dilakukan, diungkap bahwa Banyu Penguripan mampu menjadi strategi penyediaan air bersih berkelanjutan berbasis kearifan lokal dengan mengoptimalisasikan nilai-nilai yang terwujud dalam aksi konservasinya.

Bacaan Lainnya

Timnya pun merekomendasikan adanya kolaborasi aktif antara masyarakat, juru pelihara, dan pemerintah untuk menciptakan kebijakan serta kesepakatan bersama untuk mendukung pelestarian belik dan sendang sehingga krisis air bersih yang mengancam Kudus bisa dicegah.

“Kami yakin bahwa pelestarian air melalui kearifan lokal bisa diterapkan di daerah-daerah lain. Krisis air bersih tak terjadi dan budaya pun lestari,” pungkasnya.***