“Insyaallah kalau rajin saya bisa. Sekarang sudah belajar menjahit dan mengerjakan berbagai bahan kain. Harapannya nanti bisa menjahit baju sendiri, termasuk untuk ibu,” katanya.
Perjalanan Yulfia mengikuti pelatihan juga tidak selalu mudah. Ia mengaku kerap berjalan kaki menuju lokasi pelatihan apabila tidak ada anggota keluarga yang dapat mengantarnya.
Informasi mengenai program tersebut diperolehnya dari seorang tetangga. Meski awalnya ragu, Yulfia akhirnya mantap bergabung dan merasakan manfaat besar dari pelatihan yang berlangsung selama 36 hari itu.
Selain memperoleh keterampilan baru, ia juga menemukan lingkungan yang mendukung untuk terus berkembang.
“Senang bisa ikut pelatihan ini karena punya teman dan punya guru yang membimbing,” ujarnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengalaman selama pelatihan. Ia ingin memanfaatkan keterampilan tersebut untuk menerima pesanan jahitan maupun bordir sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga.
Program PKW Kejuruan Bordir yang digelar melalui kerja sama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kudus dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu memang menyasar anak-anak putus sekolah.
Selain mendapatkan pelatihan intensif selama 36 hari, seluruh peserta juga menerima bantuan mesin bordir sebagai modal awal untuk memulai usaha secara mandiri.***
