Kisah Anggota Paguyuban Tuli Kudus, Diusir dan Ditolak Kerja 

Zulfi (37) dan adiknya Nurus Sani (25) ketua Paguyuban Tuli Kudus (Patuku) sedang menyampaikan bahasa isyarat kepada Rasyd Sabri (29) pendamping sekaligus Juru Bahasa Isyarat (JBI) Patuku. (ELANG)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Dua laki-laki terlihat mulai memainkan tangan dan jemarinya. Dalam senyap, mereka berdialog bahasa isyarat dan makna khusus di setiap gerakannya.

Zulfi (37) dan adiknya Nurus Sani (25) Ketua Paguyuban Tuli Kudus (Patuku) yang berdiri sejak tahun 2012, sudah saling memahami gestur satu sama lain.

Rasyd Sabri (29) pendamping sekaligus Juru Bahasa Isyarat (JBI) Patuku menerjemahkan melalui suara kepada Zonanews.id, tentang perjuangan Patuku dan para anggotanya dalam menuntut hak-hak mereka yang semestinya dapat mereka miliki.

Bacaan Lainnya

Sambil meneguk teh manis, Zulfi dan Nurus menceritakan bagaimana dirinya ditolak berulangkali oleh perusahaan.

Alih-alih mendapatkan jawaban manis atas diterimanya ia bekerja, penolakan justru dihadapinya sejak awal ia melamar kerja. Bahkan ketika dirinya baru sampai di kantor satpam.

“Setelah saya menyerahkan surat lamaran kerja, dengan raut wajah yang marah, pak Satpam mengusir saya pergi, kemungkinan sambil mengatakan kata-kata yang tidak pantas,” kata Rasyd setelah menerjemahkan apa yang diisyaratkan Nurus, saat ditemui di kedai Lakonte, pada hari Kamis, 9 September 2022.

Sementara Zulfi, tak jauh berbeda seringkali dia mendapatkan pernyataan, “Maaf, belum ada akses bekerja untuk pekerja disabilitas di kantor ini,” terang Rasyd.

“Banyak yang tidak keterima kerja, teman tuli baru menyerahkan amplop lamaran ke satpam, ketika ditanya, dan mereka tidak menjawab. Mereka diusir. Satpam langsung berkata, ‘kita tidak butuh orang seperti kamu’,” imbuhnya.

Kejadian itu berlangsung hampir setiap tahun dan dialami hampir seluruh anggota Patuku yang berjumlah 40 orang. Yang paling membuat Rasyd marah betul, suatu ketika saat proses pembuatan kartu Kuning AK1 ke Dinas Tenaga Kerja Perinkop dan UMKM (Disnaker Perinkop).

“Saat temen-temen ke Dinasker, dalam rangka membuat kartu kuning AK1 untuk menandakan bahwa mereka belum bekerja.a Tapi malah anggota yang melayani kami bisik-bisik, mereka tidak tahu kalau saya bisa mendengar. Dalam percakapan tersebut anggota Disnaker mengatakan, ‘orang seperti mereka itu bisa diterima kerja di mana dan mereka mau melamar kerja ke mana?’,” kisah Rasyd.

Seketika, dirinya merespon apa yang dilakukan anggota Disnaker tersebut, ia menegaskan bahwa seharusnya teman-teman tuli ini difasilitasi supaya bisa bekerja.