KUDUS, ZONANEWS.ID – Suara gamelan mengalun pelan memecah keheningan malam di lereng Gunung Muria saat ratusan peserta kirab berjalan menuju Bumi Perkemahan Abiyoso, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Rabu, 5 Agustus 2026 malam.
Prosesi tersebut menjadi penanda dibukanya Festival Muria Raya #6 yang tahun ini mengusung tema “Tepuk Gelang”.
Kirab berlangsung khidmat dengan iringan pembacaan puisi dan tembang Jawa.
Di barisan depan, Mbah Lawu mengawal batu prasasti sebagai simbol persaudaraan, disusul lukisan berukuran besar, pembawa obor atau oncor, serta berbagai komunitas seni, pegiat lingkungan, petani, akademisi, hingga seniman dari Jepang dan Prancis yang berjalan bersama menuju panggung utama.
Meski udara pegunungan terasa dingin, antusiasme masyarakat tidak surut. Warga memadati kawasan perkemahan untuk menyaksikan prosesi pembukaan yang memadukan tradisi, seni, dan nilai kebersamaan.
Festival ini menjadi ruang pertemuan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang.
Direktur Festival Muria Raya, Brian Trinanda K. Adi, mengatakan tema “Tepuk Gelang” dipilih sebagai simbol perjumpaan dan ikatan antarmanusia yang terus terjalin melalui kebudayaan.
“Ujung dengan ujung bertemu melingkar. Itu menjadi simbol ikatan persaudaraan antarsesama manusia sekaligus saling mendoakan,” ujar Brian.
Menurutnya, Festival Muria Raya bukan sekadar agenda seni tahunan, tetapi juga gerakan yang mengajak masyarakat kembali memaknai hubungan manusia dengan alam.
Sejak pertama kali digelar pada 2020, festival terus berkeliling kawasan Muria sebagai bagian dari gerakan konservasi berbasis masyarakat.
