Kekurangan Guru Bahasa Jawa, SMP di Kudus Terpaksa Gunakan Guru “Pocokan”

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMP Kabupaten Kudus, Noor Erlina Lidyastuti. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Kondisi kekurangan guru Bahasa Jawa masih menjadi persoalan di sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Kudus.

Kondisi tersebut membuat sebagian sekolah terpaksa menugaskan guru yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Jawa untuk mengampu mata pelajaran tersebut.

Ketua MGMP Bahasa Jawa SMP Kabupaten Kudus, Noor Erlina Lidyastuti, mengatakan kondisi itu terjadi karena kebutuhan guru Bahasa Jawa belum diimbangi dengan rekrutmen tenaga pendidik sesuai bidangnya.

Bacaan Lainnya

Bahkan, dari sekitar 60 guru yang selama ini mengikuti pertemuan MGMP Bahasa Jawa di Kudus, sekitar 20 persen di antaranya merupakan guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keahliannya.

“Kalau di Kudus yang mengajar dan selama ini hadir pertemuan MGMP sekitar 60 orang, tapi ada yang pocokan (guru mata pelajaran lain yang mengajar bahasa jawa). Sekitar 20 persen,” ujar Erlina, Kamis, 24 September 2026.

Menurutnya, pengajar “pocokan” tersebut berasal dari berbagai mata pelajaran. Di antaranya guru IPA, Bahasa Inggris, hingga Matematika yang kemudian mendapat tugas untuk mengampu Bahasa Jawa karena keterbatasan guru yang ada.

“Memang beberapa tahun ini tidak mengadakan rekrutmen CASN. Ada PPPK pun tidak khusus Bahasa Jawa, tetapi masuknya Seni Budaya dan Bahasa Indonesia,” jelas guru yang mengajar di SMP 5 Kudus tersebut.

Erlina mencontohkan, dengan jumlah 24 rombongan belajar, idealnya sekolah tersebut memiliki dua guru Bahasa Jawa. Hal itu berkaitan dengan beban mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa yang hanya dua jam pelajaran setiap pekan.

“Kalau SMP 5 Kudus, dua saja cukup, karena ada 24 rombel. Karena Bahasa Jawa per minggu hanya dua jam, berarti kita butuh guru untuk bisa mengajar 12 kelas, sehingga beliau bisa mencapai minimal 24 jam,” katanya.