KUDUS, ZONANEWS.ID – Ketua Yayasan Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kabupaten Kudus, Endang Kursistyani, turut menyoroti berbagai persoalan yang muncul di SD 5 Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.
Endang mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan pendalaman terhadap sejumlah faktor yang diduga memengaruhi rendahnya jumlah peserta didik di SD 5 Hadipolo.
Berdasarkan data yang diterimanya, sekolah tersebut hanya memiliki 29 murid, sehingga perlu diketahui penyebab masyarakat enggan menyekolahkan anaknya di sana.
“Kita cari alasan sebenarnya mengapa masyarakat enggan masuk ke sini. Apakah karena faktor lingkungan, sarana dan prasarana yang kurang memadai, kondisi sekolah yang kurang bersih, atau ada faktor lain yang perlu didalami,” ujar Endang, Kamis, 16 Juli 2026.
Diketahui bahwa SD 5 Hadipolo dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “Sekolah Kampung Sosial”, lantaran seluruh murid yang bersekolah berasal dari keluarga dengan latar belakang pekerja sosial di jalanan, seperti mengamen hingga mengemis.
Selain kondisi sekolah, JPPA juga menaruh perhatian terhadap fenomena sejumlah anak yang ingin segera pulang setelah jam pelajaran selesai karena memilih bekerja. Temuan tersebut diperoleh setelah Endang berdialog langsung dengan pihak sekolah.
“Saya tanyakan kepada gurunya, anak-anak ini ingin cepat pulang karena kerja. Tapi mereka tetap masih sekolah, hanya saja sudah gelisah ketika mendekati pukul 12.00. Kita harus cari alasannya. Apakah mereka ingin punya uang sendiri, sudah terbiasa memegang uang sendiri, atau memang diajak bekerja,” katanya.
Menurut Endang, hasil pendalaman nantinya akan menentukan bentuk intervensi yang dilakukan.
Apabila diketahui anak-anak bekerja karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu, maka penanganannya akan melibatkan Dinas Sosial P3AP2KB Kudus agar keluarga mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan.
