Menurutnya, tim penilai dari Djarum Foundation bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus dan pihak terkait juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pengelolaan sampah di RW 3 Jati Kulon.
Sementara itu, peternak lainnya Aris Susanto menjelaskan selain memanfaatkan sampah organik untuk pakan entok, warga sebelumnya juga mengembangkan budidaya maggot sebagai upaya membantu mengurai limbah makanan. Namun saat musim hujan, perkembangan maggot dinilai kurang maksimal.
Meski demikian, limbah organik tetap difermentasi sebelum digunakan sebagai pakan agar tidak menimbulkan bau menyengat di sekitar kandang ternak.
Warga juga memanfaatkan ampas kopi dari sejumlah kedai kopi di Kudus untuk mengurangi gangguan tikus di area peternakan.
“Sisa kopi dari coffee shop kami ambil lalu disebar di sekitar kandang karena aromanya cukup membantu mengurangi tikus,” ungkap Aris.
Saat ini jumlah entok yang dipelihara warga mencapai sekitar 70 ekor. Pemberian pakan dilakukan menyesuaikan jumlah sampah organik yang terkumpul setiap harinya dari rumah-rumah warga.
Ke depan, kelompok peternak tersebut berencana mengembangkan budidaya maggot sekaligus memperluas kandang ternak secara bertahap.
“Sekarang hasil penjualan anakan masih diputar untuk rehab kandang, kebutuhan vitamin, vaksin, dan pakan,” jelasnya.***
