“Kita paham sekali kemajuan tehnologi menciptakan ruang keterhubungan atau biasa dikenal interconncetedness. Pola komunikasi melalui gawai menghadirkan satu pola baru dalam relasi manusia yakni ketergantungan,” ujarnya melalui virtual zoom meeting.
Lestari menekankan bahwa perkembangan teknologi harus bisa memperkuat pola pikir berkebangsaan, berkehidupan, serta membangun karakter yang toleran peduli dan setiakawanan.
“Kita semua juga harus mengerti makna bhineka tunggal ika bagi kita semua, dalam berbangsa dan kehidupan sehari hari membangun toleransi,” pesannya.
Sementara itu, Asisten Deputi Peningkatan IPTEK dan dan IMTAQ Pemuda sekaligus Narasumber Seminar Kepemudaan, Amar Ahmad memberikan pengertian bahwa moderasi beragama di kalangan pemuda sangatlah penting.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2021, sekitar 64,92 juta jiwa penduduk Indonesia atau hampir seperempat penduduk Indonesia (23,90 persen) berada dalam kelompok umur pemuda.
“Jumlah pemuda yang tinggi tersebut, tentunya memiliki dampak terhadap masa depan Indonesia,” katanya.
Jika pemuda dipersiapkan dan dibina dengan baik, lanjut Amar, maka dapat menjadi potensi untuk ikut serta memajukan Indonesia melalui partisipasi aktif dalam proses pembangunan. Sebaliknya, pemuda dapat menjadi ancaman dan hambatan pembangunan bangsa jika potensi tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal.
“Oleh karena itu, penting untuk membangun pemuda agar memahami dan menyikapi dengan bijak perubahan lingkungan strategis, baik domestik maupun global serta mencegah dan menangani risiko,” pungkasnya. ***
