“MQK ini sangat selektif dan kompetitornya adalah santri dari pondok-pondok besar. Sedangkan pondok kami masih seumur jagung, dan kami hanya orang-orang yang berjuang untuk mensyiarkan ilmu semampu kami,” ungkapnya.
Dia pun berharap, keberhasilan M Tsaqif Fadhil, menjadi titik awal untuk membina dan membimbing para santri, yang tidak sekadar pandai mengaji, juga berprestasi dalam berbagai event.
“Prestasi ini tentu menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pondok dalam membimbing dan mendidik para santri,” tutur KH Ahmad Bahruddin diamini dua pengasuh pondok lain, yakni KH Shofi Luthfi dan Kiai Noor Rohim.
KH Ahmad Bahruddin menuturkan, bahwa kesuksesan M Tsaqif Fadhil seakan menjadi penanda Kudus sebagai kota dengan tradisi santri yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu salaf terjaga sampai saat ini. Khususnya bidang fikih dan ushul fikih.
Kudus adalah kota dengan Kanjeng Sunan Kudus sebagai muassis (pendiri)-nya. Kanjeng Sunan Kudus dikenal sebagai waliyyul ilmi. Setelahnya, lahir ulama-ulama kenamaan seperti KH R Asnawi, KH M Arwani Amin, dan KH Turaichan Adjhuri.
“Semoga Kudus akan melahirkan generasi-generasi santri yang memiliki kualitas keilmuan yang mumpuni, manfaat dan juga berkah,” kata KH Ahmad Bahruddin. ***
