Saat ini, lanjut Ali, upaya yang dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan enceng gondok adalah menyemprot dengan herbisida. Upaya tersebut dalam jangka pendek dapat mengatasi perkembangan enceg gondok.
Akan tetapi, jangka panjang dapat meningkatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Cemaran bahan kimia berupa limbah nitrat dan fosfat dari persawahan akan bertambah dengan herbisida di sungai dan daerah aliran sungai.
“Padahal sebenarnya enceng gondok juga mempunyai dampak positif dan manfaat yang sangat baik. Diantaranya sebagai bahan kerajinan tangan dan manfaat bagi kesehatan. Enceng gondok bermanfaat memperlancar pencernaan sebagai obat diare, mual, cacingan dan juga kembung. Selain itu enceng gondok mempunyai sifat anti mikroba, anti jamur dan anti bakteri yang dapat mengobati gangguan pada kulit,” terang dia.
Pada sektor pertanian dan peternakan, enceng gondok bisa dijadikan bahan pupuk organik dan pakan ternak. Kandungan protein pada enceng gondok bisa mencapai 12 persen (jauh di atas kangkung yang hanya 2,5 persen). Enceng gondok memiliki biomasa berkisar 20-30 kg/m2 atau sekitar 200-300 ton/ hektar.
Diharapkan dengan pelatihan tersebut petani di sekitar Ngemplak dan Karangrowo bisa memanfaatkan enceng gondok untuk pakan ternak dan pupuk organik. Petani tidak hanya mengandalkan dari hasil pertanian sawah (selama ini sering gagal karena banjir).
Dengan demikian diharapkan masyarakat mendapatkan solusi mengatasi gulma enceng gondok dan mendapatkan bahan pakan ternak. Sehingga diharapkan populasi ternak meningkat bahkan menjadi sentra ternak, yang diikuti dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.***
