Dari Tong Sampah Menyala Cahaya, Persembahan Energi Hijau dari Pelajar Kudus

Muhammad Handika Amrullah, Fajar Gede Rizki, Alya Inayatul Husna, dan Farah Aghisna Qothrotan Naja dari kelas XI di MAN 1 Kudus tengah melakukan uji coba produk tong sampah W2E. (Siti Islamiyah/Zonanews.id)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Sampah sempat membuat Kabupaten Kudus kalang kabut. Pada awal tahun 2025 lalu, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo disegel paksa oleh warga sekitar, yang membuat akses truk sampah macet.

Bukan tanpa alasan, para warga merasa geram dengan pemangku kebijakan yang tak kunjung tuntas menyelesaikan permasalahan sampah di TPA. Bau tak sedap dan lindi yang mengalir hingga ke pemukiman, sungguh menyiksa mereka.

Dengan niat memberi pelajaran bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan sampah, para warga pun memberontak dan menghadang truk sampah agar putar arah. Kondisi ini pun berlangsung hingga sepuluh hari lamanya.

Bacaan Lainnya

Situasi saat itu benar-benar mencekam. Bukannya mencari solusi bersama, tapi beberapa pihak malah saling menyalahkan satu sama lain. Padahal, persoalan sampah seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing.

Dari situ lah muncul ide dari empat pelajar dari MAN 1 Kudus, yang tergerak untuk ambil bagian sebagai pemecah masalah. Mereka memikirkan bagaimana sampah rumah tangga tuntas di tong sampah masing-masing.

Setelah berdiskusi dengan guru pendamping, keempat pelajar tersebut akhirnya memutuskan melakukan percobaan dalam mengolah sampah menjadi energi listrik. Seperti pada ide awal, tong sampah adalah “pabrik” utamanya.

“Kita namai karya ini W2E: Integrasi Smart Composter Penghasil Listrik Sebagai Penanggulangan Limbah berbasis IoT Menuju Society Era 5.0,” kata Handika Amrullah, siswa kelas XII, salah satu inovator W2E.

W2E

Muhammad Handika Amrullah, Fajar Gede Rizki, Alya Inayatul Husna, dan Farah Aghisna Qothrotan Naja dari kelas XI di MA 1 Kudus tengah melakukan uji coba produk tong sampah W2E. (Siti Islamiyah/Zonanews.id)

W2E merupakan akronim dari Waste to Energi (mengolah sampah menjadi energi). Sistem ini bertugas dalam menghasilkan energi listrik yang mampu digunakan sebagai alternative energi dan menghindari kerusakan lingkungan akibat sampah.

Penelitian komposter penghasil listrik ini dilakukan pada Mei 2025 lalu, dengan memanfaatkan Laboratorium Robotik di sekolah. Handika bersama tiga temannya, merancang bagaimana cara mengubah sampah organik menjadi energi listrik.

W2E dirancang menggunakan NodeMCU ESP8266 sebagai mikrokontroler, sensor suhu DS18B20 sebagai pendeteksi suhu, LCD 12C sebagai output analisis suhu, module peltier sebagai media penghantar panas.

Setelah alat siap, sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan dimasukkan ke dalam tong sampah itu, dicampur dengan fermentor EM4 atau cairan yang membantu fermentasi untuk komposting. Proses ini akan dibiarkan selama dua minggu.

Handika memastikan sampah organik yang mengalami dekomposisi menghasilkan panas dan gas metana, yang dapat digunakan untuk menghasilkan listrik melalui proses anaerobik. Proses ini pun dilakukan pemantauan rutin.