“Pemantauan dilakukan melalui LCD yang telah disambungkan dengan sensor suhu. Kemarin dalam dua minggu dapat energi listrik dengan tegangan 1,4 volt. Aliran listriknya ini disimpan di baterai,” katanya.
Kemudian, pada pemantauan minggu ketiga, mendapatkan tegangan energi sebesar 2,2 sampai 2,3 volt, yang saat dicoba aliran listriknya sudah bisa menghidupkan lampu LED.
Minggu keempat mendapatkan tegangan energi sebesar 4,8 sampai 5,2 volt, yang saat dicoba dapat digunakan untuk mengisi daya power bank, handphone, kipas, hingga lampu kecil dengan daya 4 watt.
“Hasil dari percobaan kami ini, W2E ini bisa dimanfaatkan sebagai penghasil energi listrik yang pada dasarnya merupakan sebuah media komposter dengan dengan sensor dan pemantauan berbasis IoT,” tuturnya.
Tak hanya menghasilkan listrik, energi terbarukan buatan anak-anak SMA ini juga mempermudah proses pengomposan sampah organik agar dapat dimanfaatkan sebagai pupuk pada tanaman. Sehingga, bermanfaat pula di bidang pertanian.
“Pupuk yang dihasilkan ada yang padat dan ada cair, ini bisa dimanfaatkan untuk bidang pertanian. Jadi tidak ada yang kita buang dari hasil W2E ini,” ucapnya.
Lantaran masih dalam masa percobaan dan pengenalan di acara pameran, produk W2E memang masih butuh pengembangan lebih lanjut. Harapannya, satu rumah memiliki satu produk agar permasalahan sampah bisa terkurangi.
“Tentu saja kami ingin mengembangkannya lagi, untuk saat ini memang masih prototipe, tapi harapan kami ini bisa diproduksi massal atau dibuat lebih besar lagi karena semakin banyak sampah yang dipakai maka energi yang dihasilkan semakin besar,” terangnya.
Namun, untuk memproduksi dalam skala besar, Handika mengungkapkan bahwa dirinya dan teman-temannya tidak bisa berjalan sendiri. Apalagi mereka masih anak sekolah. Butuh dukungan pemerintah daerah atau pun swasta.
Setidaknya, dengan menciptakan inovasi ini, ada gerakan dari masyarakat untuk mengolah sampah organik di rumahnya secara mandiri, tanpa harus bergantung pada petugas sampah yang mengambil kantong sampahnya tiap hari.
Dukungan mengalir juga dari Pemerintah Kabupaten Kudus. Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda), Sulistyowati bersama tim tengah menyiapkan proses hak paten untuk inovasi pelajar MAN 1 Kudus.
Hak paten ini menjadi langkah awal untuk mengapresiasi kreativitas tanpa batas dari masyarakat, yang menyumbang kemajuan bagi Kudus. Selanjutnya, diharapkan pula inovasi itu dikembangkan lebih masif agar manfaatnya terasa merata.
“Karena karya di Kudus kan kebanyakan masih inisiasi, harapannya ada penelitian lanjutan agar manfaatnya bisa terasa di skala besar,” katanya.
Tidak menutup kemungkinan, energi hijau ini menjadi jawaban dari banyaknya pertanyaan masyarakat, tentang kapan persoalan sampah bisa terselesaikan. Oleh karena, masyarakat perlu ikut andil mulia dari tong sampahnya masing-masing. ***
