
“Kami sudah cek untuk sayuran yang disiapkan ini masih fresh, baru datang, dipastikan tidak ada pestisida. Ayam juga segar, potongan sudah bagus. Lauk ini H-1 baru datang untuk menjamin kesegaran, lalu dimasak dini hari,” ujarnya.
Letkol Inf Hermawan juga menanggapi terkait persoalan yang terjadi di SMAN 1 Kudus. Setelah dilakukan kroscek di sekolah setempat, keluhan ulat dan lauk basi hanya sebagian dirasakan siswa dan tidak bisa digeneralisasikan untuk semua sekolah.
“Mungkin masih ada satu dua human error yang disitu terdapat celah, tetapi tidan bisa digeneralisasikan. Meski begitu, ini sebagai bahan masukan yang bagus untuk mengawal program MBG ini agar lebih optimal lagi,” tuturnya.
Untuk memastikan program berjalan baik, Kodim Kudus juga telah membentuk tim pemantau khusus yang terdiri dari babinsa dan danramil. Tim ini bertugas mengawasi dapur bergizi secara langsung dan berkoordinasi dengan kepala dapur setiap hari.
Sementara itu, Kepala SPPG Jepangpakis, Febria Setyaningrum menyebut, pelaksanaan di minggu pertama memang masih dalam tahap penyesuaian. Ia pun akan melakukan evaluasi internal untuk memaksimalkan kembali program MBG.
“Dari sisi SDM memang masih mencari ritme kerja yang efisien. Akan kami tingkatkan sesuai SOP,” ujarnya.
Terkait dengan keluhan ditemukannya ulat sayur dalam tumis kacang panjang di SMAN 1 Kudus, Febria akan menyusun langkah preventif agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Seperti mengganti menu lain dan lebih teliti.
“Untuk lunch box juga kita pastikan kebersihannya, kami cuci dengan air hangat agar lebih bersih dan tidak meninggalkan kerak dalam wadahnya,” tukasnya. ***
