KUDUS, ZONANEWS.ID – Pasca naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi polemik di tengah masyarakat kian santer terdengar.
Salah satu hal yang paling dikhawatirkan dari kenaikan harga BBM adalah kenaikan harga-harga bahan pokok, sehingga dikhawatirkan mengerek angka kemiskinan tak terkecuali di Kabupaten Kudus.
Iqbal Faza, S.E, M.E selaku dosen Program Studi Dosen Management Logistik dari Politeknik Abdi Luhur (Poltekun) menjelaskan bahwa saat ini pemerintah membutuhkan solusi yang cepat, mengingat APBN mesti diselamatkan.
“Karena tanggungan APBN kita cukup berat, di samping subsidi BBM yang membengkak, IKN juga menyerap APBN cukup besar. Karena itu, diambilah keputusan menaikkan harga BBM subsidi dengan segala macam resikonya seperti gejolak, inflasi, angka kemiskinan dan lain sebagainya,” papar Iqbal kepada Zonanews.id pada Kamis,15 September 2022.
Menurut Iqbal, pemerintah sudah mengukur risiko dengan dinaikkannya harga BBM subsidi. Terlebih mengenai angka kemiskinan yang dikhawatirkan naik.
Diketahui, Kabupaten Kudus memiliki nilai UMK Rp 2,29 juta. Dengan angka kemiskinan Kudus yang masih di kisaran 7,31 persen atau 7,6 persen atau 67 ribu penduduk.
“Dengan naiknya harga BBM ini, bisa dipastikan angka kemiskinan di Kabupaten Kudus akan naik,” imbuhnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, pengeluaran untuk BBM idealnya adalah 5% dari pendapatan masyarakat.
