KUDUS, ZONANEWS.ID – Ujaran tentang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” sepertinya memang layak disematkan oleh seorang guru. Tugasnya untuk mencerdaskan bangsa tak hanya terpandang sebagai profesi, namun sebuah pengabdian tulus.
Seperti yang telah dilakukan oleh guru kelas di SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus bernama Murdopo (32). Guru lulusan sarjana Pendidikan Biologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini mengaku tulus mengabdi untuk pendidikan bangsa.
Murdopo pernah menjadi bagian dari Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T). Waktu itu, Ia berkesempatan menjadi pendidik di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Riau pada tahun 2014.
“Saat itu saya tengah menunggu waktu wisuda, terus saya coba daftar program pemerintah yang SM3T itu, alhamdulillah lolos meskipun prosesnya tidak mulus,” cerita Murdoko.

Ia menjadi satu-satunya pendaftar program SM3T menggunakan Surat Keterangan Lulus (SKL) Kuliah, karena belum mengikuti prosesi wisuda secara resmi. Ia mendaftar dan lolos hingga tes tertulis dan wawancara di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
“Tesnya hampir sama seperti tes CPNS, ada wawasan kebangsaan, umum, dan lainnya. Dan Alhamdulillah saya waktu itu memenuhi passing grade, tapi ternyata yang masuk passing grade itu banyak,” katanya.
Sehingga, Dirinya pun dialihkan sebagai salah satu peserta yang lolos program SM3T melalui Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Setelah dinyatakan lolos, Murdopo dididik materi dan fisik agar tahan pangan saat di lokasi penempatan.
Ia sendiri ditempatkan didaerah terpencil yang ada di Kepualauan Riau, tepatnya di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Siantan Selatan. Lokasinya berada di pesisir laut ujung Indonesia, berbatasan dengan Negara Malaysia dan Singapura.
“Bahasanya saja pakai bahasa Melayu karena saking dekatnya dengan Malaysia,” katanya.
Butuh waktu dua hari satu malam untuk menempuh dari Bandara Tanjung Pinang menuju Kabupaten Kepulauan Anambas menggunakan kapal. Kemudian, untuk ke Desa Pasir Panjang membutuhkan waktu empat jam dengan kapal.
“Kapal yang menuju ke Desa Pasir Panjang itu tidak setiap hari, cuma hari Senin dan Kamis saja. Jadi tidak bisa bolak-balik ke Kota dan tantangannya memang susah sinyal, listrik juga dari jam 6 malam sampe 10 malam saja,” katanya.
