KUDUS, ZONANEWS.ID – Bullying atau perundungan menjadi salah satu penyumbang munculnya kasus anak tidak sekolah di Kabupaten Kudus. Program Sekolah Ramah Anak pun diharapkan tidak menjadi slogan.
Anggota Komisi D DPRD Kudus sekaligus Ketua Yayasan Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus, Endang Kursistyani menyebut bahwa program Sekolah Ramah Anak seharusnya dijalankan dengan serius.
Sebab, berdasarkan data yang disuguhkan oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, terdapat lebih dari 1.500 anak yang tidak bersekolah, meskipun data tersebut belum terverifikasi.
Salah satu faktor penyebab anak tidak sekolah di antaranya karena kasus bullying yang masih terjadi di lingkungan sekolah. Baik itu, antara siswa dengan siswa maupun guru dengan siswa.
“Yang namanya ramah anak seharusnya tidak ada bullying. Yang bertanggungjawab ya semua warga di lingkungan sekolah, utamanya kepala sekolah harus menciptakan bersama guru, kemudian dari anak-anak juga yang dianggap mampu menciptakan itu,” ujar Endang, Rabu, 9 September 2026.
Pihaknya pun meminta agar guru kelas lebih peka terhadap kondisi anak. Apabila menemukan ada anak yang dianggap “terlalu aktif” dan “terlalu diam” harus diperlakukan dengan bijak agar tidak menjadi suatu permasalahan.
