Aktivasi Punden dan Belik Upaya Gali Folklor Muria

Para narasumber diskusi Kampung Budaya Piji Wetan dengan mengusung tajuk "Muria Punya Cerita (Untuk) Apa?"(Elang)

Peneliti Folklor Muria sekaligus Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK), Kanzanuddin menilai foklor sangat berkaitan dengan cerita rakyat dan pengalaman sehari-hari.

“Pengangkatan folklor Muria sangat tepat karena sesuai dengan implementasi penguatan profil pelajar Pancasila,” terangnya.

Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan tinggal bagaimana kita mengemasnya, supaya tujuan membangun museum folklor nanti bisa memfasilitasi anak muda untuk belajar dan bercerita tentang folklor di Muria.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Punden dan Belik Kudus sekaligus Dosen IAIN, Abdul Jalil menyampaikan adanya bahwa punden dan belik sejauh ini juga berdasarkan folklor-folklor yang ada.

Di Kudus sendiri, Jalil melaporkan ada 438 punden dan belik yang sudah terdata. Sementara 156 lainnya belum terdata secara administratif.

Selain itu, pihaknya berusaha untuk merangkul semua punden dan belik yang ada di Kabupaten Kudus dalam rangka meneruskan cita-cita pendahulu.

Menurutnya, punden adalah tempat makam tokoh yang berpengaruh di suatu wilayah, yang mengajar kebaikan dan adanya budaya di wilayah tersebut.

“Yang penting, punden ini jika hendak diusulkan bisa disepakati terlebih dahulu antara masyarakat terkait nama, tempat, sejarah, meskipun berdasarkan folklor,” pungkasnya.***