Waspadai Penyebab Kebakaran Lahan, BPBD Kudus Ingatkan Bahaya Pembakaran Terbuka di Musim Kering

Meningkatnya suhu udara dan berkurangnya curah hujan pada musim kemarau mulai berdampak terhadap meningkatnya kejadian kebakaran lahan di Kabupaten Kudus. (Foto: Ilustrasi)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Meningkatnya suhu udara dan berkurangnya curah hujan pada musim kemarau mulai berdampak terhadap meningkatnya kejadian kebakaran lahan di Kabupaten Kudus.

Hingga awal Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus telah menangani belasan kasus kebakaran lahan yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Bacaan Lainnya

Dari seluruh kejadian tersebut, lebih dari 3,1 hektare lahan dilaporkan hangus terbakar. Kerugian material yang berhasil didata sementara mencapai sedikitnya Rp 130 juta.

Sekretaris BPBD Kabupaten Kudus, Syarif Hidayah, mengatakan sebagian besar kebakaran dipengaruhi kondisi lingkungan yang sangat kering.

Vegetasi yang kehilangan kadar air menjadi mudah terbakar, terlebih jika masih ditemukan aktivitas pembakaran sampah maupun sisa hasil panen di lahan terbuka.

“Untuk menjaga lingkungan dari kebakaran, masyarakat tidak boleh membakar sampah. Sampah harus diolah, baik sampah rumah tangga maupun limbah pertanian. Jangan membakar apa pun di lahan terbuka karena saat musim kemarau api sangat mudah merembet,” kata Syarif, Selasa, 7 Juli 2026.

Ia menjelaskan, kebakaran yang terjadi selama musim kemarau tidak hanya melanda lahan kosong dan semak belukar, tetapi juga banyak terjadi di kawasan pertanian, khususnya perkebunan tebu.

Kondisi tersebut dipicu banyaknya material kering yang tertinggal setelah panen. Salah satu material yang dinilai berisiko tinggi adalah slamper, yakni tumpukan daun tebu kering yang masih berserakan di lahan setelah proses penebangan.

Ketika terkena percikan api, slamper dapat terbakar dengan cepat dan menyulut kobaran api ke area yang lebih luas, terutama saat disertai embusan angin.

Berdasarkan catatan BPBD, kebakaran terbesar terjadi di Dukuh Tompe, Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo. Sekitar tiga hektare atau 21 petak lahan tebu yang siap dipanen hangus dilalap api. Nilai kerugian akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai Rp 120 juta.