Menurutnya, produk-produk ecoprint miliknya menyasar pasar kelas menengah ke atas. Kain berukuran dua meter dibanderol mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta, tergantung bahan yang dipakai dalam produk ecoprint.
“Kalau gamis dijual mulai Rp 550 ribu, tas kain tanpa kulit dijual dari Rp 95 ribu hingga Rp 1,5 juta jika menggunakan bahan kulit. Kalau gantungan kunci ada yang Rp 45 ribu, bisa pakai wadah korek juga,” rincinya.
Meski belum mengekspor secara langsung, beberapa produk ecoprint kreasi Imah telah dibeli oleh konsumen dari Australia dan Thailand. Sedangkan, pasar dalam negeri, sudah hampir seluruh provinsi di Indonesia.
Lebih lanjut, Imah menceritakan perjalanan merajut asa di bidang ecoprint dimulai dari mengikuti berbagai pelatihan pada tahun 2021 lalu. Pandemi justru menjadi momentum penting baginya, karena banyak pelatihan beralih ke platform daring.
Sejak September 2021, Imah aktif mengikuti berbagai pelatihan. Setelahnya, diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Yang kemudian, membuka jalan baginya untuk mengkreasikan ecoprint hingga bisa melatih orang-orang.
Tak hanya mengajar secara daring, Ia pun semakin percaya diri setelah mengajar guru-guru dari berbagai daerah seperti Demak, Jepara, Kudus dan sekitarnya yang datang langsung untuk belajar membuat ecoprint darinya.
Kiprah Imah di dunia fashion tidak berhenti di pelatihan. Ia juga sering mengikuti ajang fashion show di berbagai kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Kudus. Produk-produknya tampil dalam berbagai gelaran seperti Fashion Werk dan Fashion Trend. ***
