Shofwan menyampaikan, tujuan masyarakat menjalankan Tradisi Sewu Sempol ini tidak lain sebagai bentuk sedekah dan kirim doa untuk ahli kubur dan para leluhur di Desa Kandangmas. Sehingga pada rangkaiannya, diadakan doa dan tahlil bersama dengan dilanjutkan ziarah ke makam.
“Jadi tujuannya tidak lain adalah meminta kepada Allah, melalui doa bersama di tempat sakral ini, berharap agar kehidupan masyarakat di sini tentram, tidak ada permasalahan, dijauhkan dari marabahaya, dan terutama untuk kerja semoga diberi jalan lancar,” paparnya.
Nantinya, masyarakat akan membawa ingkung akan memberikan sempol (paha ayam) untuk didoakan bersama. Untuk selanjutnya, sempol tersebut akan disuguhkan kepada tamu dan akan dibuat berkat atau oleh-oleh bagi tamu dan panitia penyelenggara.
Sementara itu, Camat Dawe, Famni mengatakan bahwa Tradisi Sewu Sempol ini menjadi kearifan lokal yang perlu dilestarikan di Desa Kandangmas. Apalagi, lokasi makam tersebut tersohor cerita rakyat dan mitos yang masih dipercayai masyarakat hingga sekarang.
“Ini salah satu cerita yang berkembang di makam sini, kalau ada yang ngambil kayu itu diharuskan mengembalikan, itu kepercayaan masyarakat sini. Jadi ini pelestarian lingkungannya juga sangat baik,” tuturnya.
Pihaknya menyebut, pelestarian lingkungan di sekitar makam perlu menjadi salah satu yang harus didukung oleh Pemdes Kandangmas, Pemcam Jati, maupun Disbudpar Kudus untuk ikut melestarikan aset budaya yang telah dimili.
“Artinya, ini perlu didorong dan didukung untuk nguri-uri budaya yang ada di sini,” ucapnya. ***
