Menurutnya, makna utama dari Sewu Sempol bukan pada jumlahnya, melainkan pada nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya.
“Dengan tradisi ini, kita diajak untuk berbagi dan bersama-sama mendoakan keluarga yang telah mendahului,” katanya.
Kepala Desa Kandangmas, Sofyan, menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap tradisi ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Tidak hanya warga setempat, tetapi juga perantau serta peziarah dari berbagai daerah.
“Warga Kandangmas sendiri bisa lebih dari dua ribu orang yang hadir. Ditambah peziarah dari Jepara, Purwodadi, bahkan dari luar kabupaten,” ungkapnya.
Terkait pengelolaan kawasan makam dan kegiatan tradisi, Sofyan menyebutkan bahwa saat ini masih berada di bawah pengelolaan yayasan, namun ke depan akan melibatkan pemerintah desa secara lebih aktif.
“Ke depan, pemerintah desa tetap akan ikut terlibat karena lahan makam ini sudah menjadi aset desa dengan status guna pakai,” katanya.
Pemerintah desa berharap Tradisi Sewu Sempol dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kandangmas.
“Kami ingin tradisi ini tetap dijaga sesuai ketentuan dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas Sofyan.***
