Upaya tersebut dinilai penting agar masyarakat memiliki akses air yang lebih memadai sekaligus memperkuat mitigasi menghadapi bencana kekeringan.
Dari tiga desa yang terdampak, Glagahwaru masih mencatat jumlah warga terdampak paling besar. Sebanyak 596 KK atau 1.678 jiwa di wilayah tersebut mengalami kekurangan air bersih. Sementara itu, di Desa Colo terdapat 50 KK atau 150 jiwa yang terdampak.
BPBD bersama sejumlah pihak telah melakukan distribusi air bersih secara bertahap sejak 15 Juli hingga 18 Agustus 2026. Total bantuan yang telah disalurkan mencapai 463.000 liter.
Distribusi terbesar diberikan kepada Glagahwaru dengan 435.000 liter. Kemudian Colo menerima 18.000 liter, sedangkan Setrokalangan mendapatkan 10.000 liter.
Pada Selasa, 18 Agustus 2026, bantuan kembali dikirim ke tiga wilayah tersebut. Setrokalangan memperoleh 10.000 liter air dari BPBD.
Glagahwaru mendapat tambahan 10.000 liter dari BBWS Pemali Juana dan 5.000 liter dari Satpol PP Kabupaten Kudus. Adapun Desa Colo menerima 5.000 liter bantuan air bersih dari PT Sukun.
Dengan bertambahnya wilayah terdampak, BPBD Kudus mendorong penanganan kekeringan dilakukan secara terpadu, tidak hanya melalui bantuan air bersih, tetapi juga dengan memperkuat infrastruktur penyediaan air agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.***
