Heni menyebut, keberhasilan tersebut semakin membanggakan karena mayoritas atlet yang memperkuat Kudus masih berusia muda. Rata-rata pemain berada pada rentang usia 17 hingga 18 tahun dan masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).
Meski menghadapi lawan yang memiliki pengalaman lebih banyak, para atlet muda Kudus mampu menunjukkan kemampuan dan bersaing dengan baik di lapangan.
“Anak-anak kami rata-rata masih SMA. Namun, mereka sudah bisa mengimbangi pemain dari daerah lain yang usianya lebih senior. Itu menjadi pencapaian luar biasa bagi kami,” jelasnya.
Ia juga menyoroti penampilan Citra Rasmi yang mampu bersaing menghadapi atlet senior pada nomor tunggal putri. Menurut Heni, kemampuan teknik dan kecepatan Citra sudah cukup baik. Namun, pengalaman dalam membaca variasi permainan lawan masih perlu ditingkatkan.
Lebih lanjut, Heni menjelaskan bahwa kemampuan bermain tenis meja tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pukulan dan kecepatan. Pemain juga harus memiliki ketenangan, kecermatan membaca arah bola, serta kemampuan menentukan strategi sesuai karakter permainan lawan.
“Bukan hanya power dan kecepatan. Anak-anak harus belajar menikmati permainan, memahami bola yang datang, dan mengetahui bagaimana menghadapinya. Hal itu masih perlu banyak dipelajari, terutama oleh atlet putri,” katanya.
Selama pelaksanaan pertandingan, seluruh atlet tenis meja Kudus juga berada dalam kondisi kesehatan yang baik tanpa kendala berarti.
Ke depan, hasil Porprov Jateng 2026 diharapkan menjadi motivasi bagi PTMSI Kudus untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan dan latihan. Heni optimistis para atlet memiliki potensi untuk meraih prestasi lebih tinggi pada kompetisi berikutnya.
“Melihat potensi anak-anak sekarang, harapan kami pada Porprov berikutnya bisa sapu bersih medali. Mereka sudah mampu bersaing, tinggal menambah pengalaman, kesabaran, dan kematangan permainan,” pungkasnya.***
