KUDUS, ZONANEWS.ID – Ribuan pasang mata tertuju ke kawasan Makam Sunan Kudus pada Rabu, 7 Januari 2026 malam. Di bawah sorot cahaya lampu, malam puncak Tembayatan Ta’sis Menara Kudus ke-491 menjadi penanda kuat bahwa warisan Sunan Kudus masih hidup dan terus dirawat.
Digelar di gedung parkir Makam Sunan Kudus, agenda tembayatan bukan sekadar seremoni tahunan. Ia hadir sebagai ruang perjumpaan spiritual, budaya, dan sosial.
Mengusung tema “Menebar Energi Peradaban Auliya”, malam puncak Ta’sis ini dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen, jajaran Pemkab Kudus, pengurus Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), tokoh agama, santri, hingga masyarakat umum.
Ketua YM3SK Muchammad Fatchan menegaskan bahwa istilah tembayatan dipilih bukan tanpa makna. Berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti tolong-menolong, tembayatan menjadi simbol kuat persatuan masyarakat Kudus.
“Ini bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat bahwa Kudus dibangun dengan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan kembali jejak sejarah berdirinya Kota Kudus yang tertulis pada prasasti 19 Rajab 956 Hijriah atau 23 Agustus 1549.
Menurutnya, warisan Sunan Kudus bukan hanya soal fisik bangunan Menara, melainkan nilai hidup damai yang masih relevan hingga kini.
Momentum Ta’sis Menara juga ditandai dengan pelantikan pengurus Pemangku Punden dan Belik se-Kabupaten Kudus serta penyerahan penghargaan dari Wakil Gubernur Jawa Tengah.
