Setelah itu, dilakukan uji laboratorium kimia menggunakan sejumlah reagen untuk mendeteksi kemungkinan kandungan zat berbahaya, di antaranya nitrit, sianida, dan arsenik.
Wahyu menambahkan, inovasi tersebut tidak berhenti pada aspek keamanan pangan. Pihaknya juga memperhatikan tiga unsur penting dalam menu MBG, yaitu sehat, aman, dan enak.
Hal itu dinilai penting agar makanan yang memenuhi standar kesehatan tetap dapat diterima dan dikonsumsi dengan baik oleh anak-anak.
“Prinsipnya makanan harus sehat, aman, dan enak. Kami tidak ingin makanan hanya memenuhi standar kesehatan dan keamanan, tetapi kemudian tidak disukai anak-anak. Karena itu, cita rasa juga menjadi bagian yang kami perhatikan dalam penyediaan menu,” jelasnya.
Kapolres berharap pola pengawasan dan inovasi yang diterapkan SPPG Polres Kudus dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan keracunan sekaligus dapat diterapkan di SPPG lainnya.
Menurutnya, keberhasilan MBG membutuhkan kolaborasi lintas sektoral, termasuk dengan Puskesmas, untuk memantau kesehatan relawan, memastikan kelayakan sanitasi serta bahan pangan.
“Sehingga program tersebut mampu memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan, perekonomian, dan masyarakat secara luas,” pungkasnya. ***
