KUDUS, ZONANEWS.ID – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya Solar berimbas pada tarif jasa transportasi angkutan barang atau ekspedisi di Kabupaten Kudus. Dampak kenaikan harga BBM pun dinilai cukup menganggu.
Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk menyesuaikan harga BBM jenis Pertalite, Solar dan Pertamax untuk mengurangi beban subsidi energi yang berpotensi mencapai Rp 698 triliun.
Meski dinilai mengurangi beban APBN, kenaikan harga ini bisa mendorong laju inflasi nasional, mengingat harga-harga barang maupun logistik yang terkait dengan BBM akan ikut naik.
Bank Indonesia (BI) bahkan memperkirakan inflasi pada September 2022 mencapai 0,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm), dengan penyumbang utama adalah Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menurut Rony selaku Sprinter dari jasa ekspedisi J&T Cargo di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus.
Pihaknya mengatakan kenaikan harga BBM khususnya solar, yang sebelumnya Rp. 5.150 menjadi Rp. 6.800 perliter, sangat berdampak pada usaha ekspedisi yang dinaunginya.
“Yang tadinya Rp 100.000 dapat 19 liter, sekarang cuma dapat nggak lebih dari 15 liter. Sehingga sangat menganggu operasional usaha kami,” kata Rony, pada Kamis, 15 September 2022.
Selain itu, menurut Rony, kalau harga BBM naik, dapat dipastikan harga barang-barang lain juga akan naik. Seperti ban, spare part dan penunjang operasional lainnya, termasuk biaya pengiriman barang.
