Kudus kemudian melengkapi perolehan medali dengan satu perunggu pada hari terakhir pertandingan.
“Awalnya kami belum mendapat medali di beregu putra karena harus menyesuaikan kondisi lapangan. Setelah evaluasi, hari kedua mulai menemukan irama permainan dan mendapat perak. Hari ketiga meraih dua emas, kemudian hari terakhir mendapat perunggu,” jelas Wahyudi.
Persaingan dalam cabang olahraga gateball juga berlangsung cukup ketat. Sebanyak 17 kabupaten/kota ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Beberapa daerah yang turut menjadi pesaing di antaranya Banyumas, Temanggung, Purworejo, Kabupaten Semarang, dan Surakarta.
Menurut Wahyudi, Banyumas dan Cilacap menjadi dua daerah yang memberikan perlawanan cukup kuat bagi kontingen Kudus. Pertandingan menghadapi kedua daerah tersebut berlangsung sengit, sehingga para atlet dituntut tetap fokus hingga pertandingan berakhir.
Selain mempersiapkan strategi permainan, tim pelatih juga memperhatikan kondisi fisik para atlet selama kompetisi. Perubahan cuaca dari panas menjadi hujan tidak menimbulkan keluhan kesehatan yang berarti.
Para atlet diingatkan untuk menjaga kebugaran dengan mencukupi kebutuhan air putih serta mengonsumsi vitamin apabila diperlukan.
Meski berhasil menyandang gelar juara umum, Wahyudi menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan. Dari sisi teknik, kemampuan atlet dinilai sudah cukup baik dalam menjalankan strategi yang diberikan.
Namun, kekuatan mental ketika menghadapi tekanan pertandingan masih menjadi pekerjaan rumah bagi tim pelatih.
“Terutama saat tertekan atau ketika lawan mulai menguasai permainan, mental pemain perlu kita benahi lagi. Selebihnya, atlet sudah menjalankan strategi yang diberikan,” pungkasnya.***
