“Kita menunggu nota dinas dan petunjuk bagaimana. Nanti biar dihitung konsultan, kalau tiga ruang mungkin sekitar Rp 200 juta, sekalian perbaikan kusen yang rusak-rusak,” tandasnya.
Harjuna pun menegaskan kepada setiap korwil pendidikan di sembilan kecamatan, supaya mendata sekolah-sekolah rusak yang membutuhkan perbaikan secara urgen. Sehingga hal serupa tidak terulang kembali.
Sementara itu, Guru Kelas III SDN 2 Ngembalrejo, Mardi Susanto menyebut bahwa atap ambrol tersebut terjadi di ruang guru. Kerusakan terjadi sejak 2018, karena semakin parah, ruang tersebut dikosongkan sejak 2022.
“Tahun 2018 sudah mengajukan dan hanya dapat anggaran Rp 90 juta, jadi untuk plafon dan tiang penyangga depan ruang kelas. Lalu mengajukan lagi karena semakin parah di tahun 2022, tapi sampai saat ini belum dapat,” tuturnya.
Mardi juga menerangkan, ambrolnya sebagian plafon di ruang guru tersebut terjadi pada Agustus 2024 lalu. Akibat peristiwa tersebut, dua ruang di sampingnya, yakni ruang laborat dan ruang kelas 2 ikut terdampak.
“Ruang guru karena dikosongkan maka guru menempati ruang kelas 3, sedangkan kelas 3 kami taruh di ruang laborat. Karena ruang laborat juga terdampak, sementara ini rencana akan digabung dengan kelas lain pakai sekat,” tambahnya. ***
