“Ini sebagai modal supaya peserta benar-benar memahami arti tentang keamanan pangan. Ada beberapa hal yang menyebabkan pangan tidak aman, bisa dari paparan fisik, bakteri, kimia atau hal-hal lainnya,” terangnya.
Ada sekitar 40 peserta yang ikut dalam pelatihan ini, yang diantaranya adalah pemilik dan juru masak SPPG. Mereka diminta untuk mengikuti kegiatan ini supaya bisa memastikan keamanan pangan pada makanan yang didistribukasikan dalam program MBG.
“SPPG katanya memang sudah dapat pelatihan dari BGN (Badan Gizi Nasional), tapi kami tetap minta untuk tetap mengikuti kegiatan pelatihan yang ada di DKK Kudus guna meminimalisir hal-hal berisiko,” bebernya.
Setelah kegiatan ini, DKK Kudus akan melakukan tindak lanjut dengan melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dengan mengunjungi rumah atau tempat produksi makanan siap saji. Guna memastikan kondisi dapur sesuai syarat higienis.
Salah satu peserta, Yupi Inggrit, yang merupakan helper salah satu SPPG di Desa Bulungcangkring, menuturkan bahwa keikutsertaannya dalam pelatihan ini adalah untuk mempertajam kemampuan dan pengetahuan dalam menyediakan makanan.
“Agar kita lebih tahu penyajian makanan layak saji terhindar dari keracunan lebih higienis memasaknya. Lebih berhati hati lagi tidak lagi adanya keracunan terutama di sekolah,” tuturnya. ***
