KUDUS, ZONANEWS.ID – Semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui upacara resmi pemerintahan. Di Kabupaten Kudus, para penggemar sepeda tua memilih cara berbeda untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sekitar 200 orang berkumpul di kompleks Gelanggang Olahraga (GOR) Wergu Wetan, Senin, 17 Agustus 2026. Mereka mengikuti upacara bendera dengan mengenakan pakaian yang menggambarkan suasana perjuangan pada masa lalu.
Sepeda onthel turut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Kehadiran sepeda-sepeda tua membuat suasana peringatan kemerdekaan terasa semakin kental dengan nuansa tempo dulu.
Ketua Onthelis Onthelista Indonesia (OOI) Jawa Tengah, Yon Sugiyanto, mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi agenda tahunan para penggemar sepeda tua di Kudus.
“Tujuannya untuk mempererat persaudaraan, mempersatukan. Tidak ada tendensi apa-apa, untuk menanamkan rasa cinta tanah air,” kata Yon.
Dari keseluruhan peserta, sekitar 150 orang merupakan penggiat sepeda tua. Sementara itu, sekitar 44 anggota paduan suara turut bergabung sehingga jumlah peserta mencapai kurang lebih 200 orang.
Menurut Yon, kegiatan komunitas tidak berhenti pada momentum peringatan HUT RI. Para penggemar sepeda tua juga memiliki agenda rutin setiap akhir pekan.
Setiap Minggu, anggota dari sejumlah klub memilih titik kumpul masing-masing. Beberapa di antaranya berada di kawasan Alun-Alun Kudus, GOR Wergu, Oasis, dan sekitar Menara Kudus.
“Kalau Minggu kumpulnya bermacam-macam. Ada yang di alun-alun, ada yang di GOR, ada di Oasis, sesuai klubnya masing-masing. Setelah itu putar-putar sebentar, kemudian pulang,” ujarnya.
Kegiatan bersepeda biasanya menempuh jarak sekitar lima kilometer. Setelah berkeliling, para anggota kembali berkumpul untuk bersantai dan berbincang.
Bagi Yon, aktivitas tersebut sekaligus menjadi cara sederhana untuk mempertahankan keberadaan sepeda tua di tengah perkembangan kendaraan modern.
Ia mengatakan kecintaan terhadap onthel berawal dari hobi dan kesadaran pribadi. Bersepeda juga dinilai memiliki manfaat lain karena dapat menjadi alternatif perjalanan yang tidak bergantung pada bahan bakar.
“Ini hanya kesadaran. Saya sendiri sudah tua, arahnya ke mana. Kebetulan punya sepeda, kemudian ikut ngonthel. Istilahnya juga bisa menghemat BBM,” ungkapnya.
Lebih jauh, sepeda tua bagi para anggota komunitas bukan sekadar kendaraan lama. Setiap unit memiliki nilai historis sehingga keberadaannya berusaha dipertahankan.
