Khalim memberikan contoh pengelolaan kopi di Lereng Muria yang dapat didorong dengan pengolahan kopi berkualitas. Dengan cara ini, petani kopi tidak hanya bergantung pada sistem petik hijau tradisional dan dapat memasarkan produknya ke kedai-kedai di Kudus.
Selain kopi, Khalim juga menyoroti potensi pengembangan Jenang Kudus, nanas, dan desa wisata.
“Koperasi desa dapat mendorong pengembangan desa wisata di Kabupaten Kudus, meningkatkan produktivitas, dan membantu pelaku UMKM,” jelasnya.
Khalim berharap adanya koperasi desa akan memperkuat kerjasama antar koperasi dan mendukung pelibatan lebih banyak pelaku usaha dalam kegiatan ekonomi lokal. Ia percaya bahwa koperasi dapat menjadi pilar ekonomi masyarakat jika dikembangkan dengan baik dan sesuai kebutuhan daerah.
Sarjono Amsan menutup diskusi dengan menekankan bahwa koperasi harus kembali pada prinsip dasarnya untuk memenuhi hajat orang banyak dan memberdayakan anggotanya. Ia berharap melalui pelatihan seperti ini, pemahaman masyarakat tentang koperasi dapat meningkat.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan wawasan baru tentang peran koperasi tetapi juga mendorong praktik koperasi yang lebih efektif di lapangan. Dengan pengelolaan yang tepat, koperasi dapat berkontribusi signifikan terhadap pemberdayaan ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat. (***)
