“Seperti belajar batik, kesenian barongan, mengenal omah kapal, jenang, dan lainnya,” sebutnya.
Bahkan, ketika Nanik memperkenalkan budaya yang dimiliki Kudus secara teoritis, tak sedikit dari siswa yang kemudian mencari informasi sendiri dan bahkan mengunjungi situs tersebut secara mandiri.
“Jadi kita ingin dalam kegiatan Educational Project ini, para siswa bisa mengeksplore dirinya sendiri. Tadi ada yang membuat poster, podcast, map tour guide terkait kearifan lokal Kudus,” terangnya.
Nanik juga mencoba mengenalkan budaya Kudus dalam kemasan bernilai ekonomi. Dimana, budaya Kudus yang telah masuk dalam daftar pariwisata bisa menjadi peluang bagi para siswa sebagai bekal saat dewasa nanti.
Seperti keberadaan batik di Kudus. Motif dan corak yang dimiliki tentunya berbeda dengan yang dimiliki daerah lain. Mereka diajarkan untuk mengembangkan batik tersebut menjadi sesuatu yang kreatif.
“Kita kerjasama dengan Tere Batik, di mana anak-anak diajarkan tentang membuat dan mengenal batik Khas Kudus. Kemudian bisa mengkreasikan ke bentuk lain, seperti tas atau fashion,” tuturnya.
Pihaknya berharap, dengan adanya penanaman karakter cinta Kudus sedari dini, bisa membawa anak bisa lebih mengenal dan mengembangkan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki. Mereka juga diharapkan bisa menjadi pelaku perubahan untuk membawa Kudus lebih berkembang lagi. ***
