Di bidang kuliner, Soto Djatmi dan Rumah Makan GASASA resmi masuk dalam daftar usaha yang dipersiapkan untuk mendampingi program ini.
Adapun untuk sektor destinasi wisata, pilihan jatuh pada Museum Jenang dan Kretek Waterpark sebagai lokasi rintisan. Sedangkan dari sektor akomodasi perhotelan, rencananya ada Hotel Sapphire dan Hotel Salimna.
“Lima itu yang kita jadikan pilot project. Nanti mudah-mudahan yang lain bisa mengikuti juga,” kata Esti.
Tidak hanya berhenti pada fasilitas fisik dan akomodasi, ruang lingkup pengembangan pariwisata ramah muslim ini juga merambah ke sektor produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Fokus utamanya adalah penguatan jaminan kehalalan produk lokal guna memberikan rasa aman dan kenyamanan maksimal bagi para pelancong.
Sebagai pelengkap ekosistem pariwisata tersebut, Disbudpar Kudus turut memaksimalkan layanan informasi berbasis digital melalui pembaruan Tourism Information Center (TIC) online.
Melalui platform digital ini, wisatawan dipermudah dalam mengakses data komprehensif mengenai lokasi, fasilitas, hingga peta penunjuk arah menuju objek wisata.
“Kita memperbarui informasi yang disampaikan di sana. Harapannya akan lebih komprehensif ketika diakses wisatawan, termasuk ada petunjuk dan maps sehingga wisatawan lebih mudah menuju destinasi,” pungkas Esti. ***
