Resmikan RSLH di Demak, PT Djarum Komitmen Dukung Program Entaskan Kemiskinan

Peresmian RSLH di Bogosari, Demak dengan menekan tombol sirine. (MIA)

Dalam Surat Edaran Kementerian Sekretariat Negara Sekretariat Wakil Presiden, Nomor: B-38/KSN/SWP/KK.04.01/02/2022, Jawa Tengah tercatat memiliki 19 kabupaten yang menjadi target pengentasan kemiskinan ekstrem.

“Untuk itu, tangan kami terbuka dengan kehadiran pihak swasta salah satunya PT Djarum agar target pengentasan kemiskinan ini bisa segera tercapai,” ujar Sambodo.

Ia menyebut, pembangunan RSLH merupakan upaya mendorong agar masyarakat memiliki hunian yang sehat dan meningkatkan produktivitas demi mengangkat perekonomian keluarga.

Bacaan Lainnya

“Bila warga sehat, maka akan semakin produktif dan semangat bekerja. Untuk itu pembangunan RSLH ini sangat penting demi meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan harapan bisa segera keluar dari jerat kemiskinan,” Sambodo menjelaskan.

Sementara itu, Bupati Demak Eisti’anah mengatakan, bahwa tingginya angka kemiskinan ekstrem di Kota Wali tidak lepas dari pandemi Covid-19 yang memukul perekonomian masyarakat. Untuk itu ia berharap kerjasama antara pemerintah daerah dan sektor swasta seperti PT Djarum bisa ditiru oleh perusahaan-perusahaan lainnya.

“Peran serta seperti yang dilakukan PT Djarum ini sangat berguna tak hanya dari sisi fisik yakni merenovasi rumah semata tapi juga memberikan dukungan moral bahwa pemerintah, sektor swasta dan masyarakat bersama-sama keluar masa sulit ini,” bilang dia.

Di Demak, PT Djarum mengucurkan anggaran tak kurang dari 600 juta untuk 10 rumah yang direnovasi, dengan masing-masing bantuan renovasi untuk setiap rumah menghabiskan sekira Rp 60 juta.

Angka itu lebih besar dari rekomendasi anggaran pemerintah dengan tujuan agar para pemilik rumah tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk proses pembangunan.

Siti Katijah (50) salah satu warga yang rumahnya di renovasi, bersyukur terpilih dalam program ini. Pasalnya, bila mengandalkan penghasilannya sebagai buruh tani dengan pendapatan Rp 40 ribu per hari ia tidak akan mungkin bisa memperbaiki rumahnya menjadi sehat dan layak untuk ditinggali.

“Suami saya meninggal tujuh bulan lalu. Dengan pekerjaan sebagai buruh tani yang tidak setiap hari dapat pekerjaan, penghasilan saya hanya cukup untuk makan. Makanya ketika dapat info rumah saya terpilih direnovasi, saya bersyukur sekali. Sekarang rumah sudah tidak bocor lagi, ada lantainya sehingga saya dan anak-anak bisa istirahat dengan nyaman,” kata Katijah. ***