Menurut Arin, tantangan terbesar yang dihadapi BUMDes saat ini masih berada pada aspek teknis budidaya. Karena itu, Dispertan akan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing usaha.
“Kendalanya masih di sisi teknis budidaya. Sesuai fungsi Dispertan, nanti akan kita lihat karakter usaha masing-masing BUMDes,” katanya.
Ia menjelaskan, Dispertan akan menempatkan satu pendamping khusus di setiap BUMDes peserta program. Pendamping tersebut bertugas memberikan pembinaan teknis agar pengelolaan usaha menjadi lebih efektif dan produktif.
“Dispertan akan memasukkan satu pendamping khusus ke masing-masing BUMDes sesuai dengan karakternya. Harapannya BUMDes ini bisa naik level, karena pendampingan yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan teknis di lapangan,” jelasnya.
Sementara itu, Tim Lokadata BUMDes, Choirul Anang, menyampaikan bahwa usaha yang dijalankan 12 BUMDes cukup beragam. Selain perdagangan dan wisata desa, sejumlah BUMDes juga mengembangkan budidaya jamur, selada hidroponik, hingga peternakan.
Melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah tersebut, Pemerintah Kabupaten Kudus berharap BUMDes mampu berkembang menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan melalui usaha yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan.***
