Selain kebersihan lingkungan, Sam’ani menyoroti pentingnya standar higienitas makanan. Seperti, penggunaan sarung tangan, celemek, masker saat sakit, serta kebiasaan mencuci peralatan dengan air mengalir.
Sementara itu, Wakil Bupati Bellinda Birton menilai koperasi juga relevan dengan dominasi generasi muda di sektor PKL. Ia menyebut sekitar 80 persen pelaku PKL di Kabupaten Kudus adalah anak muda.
“Sepertindi coffee street itu kan banyak anak muda. Sehingga ke depan Pemkab Kudus akan menyiapkan pelatihan kewirausahaan agar koperasi dan usaha PKL semakin maju dan berdaya saing,” tandasnya.
Ketua Paguyuban PKL Kudus, Mundloha, menyambut baik rencana pembentukan Koperasi PKL Merah Putih. Ia berharap koperasi tersebut mampu menjadi sarana sinergi antara PKL dan pemerintah daerah.
“Pemkab Kudus selalu menaungi kami, apalagi pak bupati soal Koperasi PKL Merah Putih ini bentuk perhatiannya kepada PKL, untuk memperkuat kesejahteraan pedagang dalam menciptakan ekosistem usaha yang tertib, sehat, dan berkelanjutan,” sebutnya.
Mundloha menyebut bahwa saat ini ada ribuan PKL yang masuk dalam paguyuban di Kudus. Terhitung ada sekitar 17 paguyuban yang terbentuk, ditambah paguyuban PKL yang terbentuk di masing-masing kecamatan. ***
