Didik mengaku peran anak muda sangat terasa sebagai benteng pertahanan kearifal lokal adat dan budaya di Kampung Adat Dukuh Semliro.
“Sehingga kebudayaan dan kearifan lokal di Desa Rahtawu tetap terjaga,” tandasnya.
Salah satu relawan sekaligus pegiat seni dan budaya asal Desa Rahtawu, Randy Gita (25 tahun) mengatakan, pihaknya merasa bangga atas terselenggaranya agenda peresmian Kampung Adat.
Ia berharap dengan adanya agenda peresmian Pertapaan Eyang Patih Gadjah Mada di Satpo Hargo Semliro Rahtawu sebagai Kampung Adat, dapat menjadi event yang berkelanjutan dan mengukuhkan karakter Desa Rahtawu.
“Syukur-syukur bisa menjadi event seperti Dieng Culture Festival, mengingat banyaknya budaya yang ada di Desa Rahtawu terutama yang bernilai sejarah,” paparnya.
Karena menurut Randy, pariwisata mesti diimbangi dengan kesenian dan kebudayaan. Dengan berlangsungnya hal demikian maka pariwisata di desa lebih hidup.
“Kalau kesenian dan kebudayaan di desa sudah hidup, otomatis pariwisata di desa juga hidup. Seperti di Bali,” imbuhnya.
Selanjutnya Randy berharap, para muda seperti dirinya dapat memanfaatkan perkembangan teknologi dengan baik. Sehingga tidak mengabaikan potensi kearifan lokal yang ada di Desa Rahtawu.***
