Sementara itu, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung pekerjaan disediakan secara swadaya oleh para petani. Dukungan BBM juga datang dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana apabila sudah tersedia.
“Excavator dibantu oleh Dinas PUPR , dan bbm secara swadaya disediakan petani , dan bbws Pemali Juana (apabila sudah tersedia),” ujar Syarif.
BPBD Kudus turut mengambil peran dalam proses tersebut. Selain memberikan pendapat teknis terkait pengerukan dan peninggian tanggul, BPBD menjadi fasilitator apabila muncul konflik maupun dampak sosial selama pekerjaan berlangsung.
“BPBD sebagai fasilitator penyelesaian konflik / dampak sosial (apabila terjadi) dan memberikan pendapat teknis pengerukan /peninggian tanggul,” katanya.
Pemerintah desa dan para petani juga dilibatkan secara langsung melalui semangat gotong royong. Mereka membantu memenuhi berbagai kebutuhan yang diperlukan selama pekerjaan berlangsung.
Dari sisi keamanan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas turut bertugas menjaga keamanan sekaligus membantu penyelesaian apabila terjadi persoalan di lapangan.
Pengerukan dan peninggian tanggul tersebut telah dimulai sejak Jumat, 7 Agustus 2026. Pekerjaan diperkirakan selesai pada 6 September 2026.
Melalui pengerukan alur sungai dan penguatan tanggul tersebut, penanganan diharapkan mampu mengurangi risiko limpasan Sungai Lusi ke area persawahan.***
