Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dr. Abdul Hakam, menyampaikan bahwa pengembangan konsep health tourism akan dilakukan secara bertahap.
Dalam enam bulan pertama, pihaknya berencana menyiapkan fondasi dan model pengembangan, dengan target pelaksanaan program secara bertahap dalam kurun waktu maksimal tiga tahun.
Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah melakukan studi tiru ke Tawangmangu untuk mempelajari model wisata kesehatan yang telah dikembangkan di daerah tersebut.
Abdul Hakam mengungkapkan, potensi pasar wisata kesehatan di Kudus cukup besar. Berdasarkan informasi yang disampaikan, sekitar 30 hingga 40 persen pasien yang dirawat di rumah sakit di Kabupaten Kudus berasal dari luar daerah.
“Jadi, ini jadi pasar, supaya mereka setelah berobat itu nanti sembuh secara paripurna, baik itu di kulineran atau mungkin berziarah, bisa nanti ada mental health ataupun mental therapy di situ,” ucapnya.
Melalui pengembangan health tourism dan therapy tourism, Pemkab Kudus berharap sektor kesehatan dapat terhubung dengan sektor pariwisata, kuliner, religi, dan olahraga.
“Kita punya jargon Kudus Sehat, sehat secara fisik dan juga sehat secara batin ataupun secara jiwa,” kata dr. Hakam. ***
