Terkait dugaan awal pemicu kejadian yang berasal dari saling tantang di media sosial, Sam’ani menegaskan pentingnya pengawasan ruang digital.
Sementara itu, kuasa hukum korban, Yusuf Istanto, menyebut keluarga korban sempat khawatir terkait biaya pengobatan sebelum akhirnya mendapat bantuan dari pemerintah daerah.
“Semalam orang tuanya sempat ragu melanjutkan penanganan karena terkendala biaya. Tetapi tadi sudah disampaikan Pak Bupati bahwa akan dibantu dan di-cover menggunakan BPJS,” ujarnya.
Yusuf menjelaskan, berdasarkan keterangan korban dan saksi, pelaku diduga berjumlah enam orang yang datang menggunakan dua sepeda motor.
“Menurut keterangan korban ada enam orang dengan dua kendaraan, masing-masing tiga orang. Senjata yang dipakai ada yang bergerigi, kemudian cutter dan parang,” katanya.
Korban mengalami luka sayatan di bagian punggung dan langsung menjalani tindakan operasi usai mendapat penanganan di IGD.
“Setelah penanganan di IGD, korban diminta segera dioperasi karena dikhawatirkan lukanya lebih parah,” lanjut Yusuf.
Dari penuturan korban, peristiwa bermula saat dirinya pulang sekolah. Di tengah perjalanan, korban dihampiri dua kendaraan yang langsung melakukan penyerangan.
“Korban mengaku tidak punya masalah dengan siapa pun. Dia hanya mendengar sebelumnya ada saling tantang di media sosial. Bahkan diduga korban salah sasaran karena pelaku hanya melihat seragam sekolah,” tandasnya.
Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan dan memburu para pelaku pembacokan tersebut.***
