Eko menilai kegiatan tersebut memiliki dampak ganda, yakni sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.
“Ini memiliki makna besar karena bukan hanya menghadirkan nostalgia bagi generasi terdahulu, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kudus akan terus bersinergi dengan Yayasan Menara dan Makam Sunan Kudus dalam mendukung kegiatan budaya dan keagamaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin terus berkolaborasi dengan yayasan dan seluruh pihak terkait. Selain memperkuat sektor UMKM, kami juga tengah memikirkan penataan kawasan Menara Kudus agar semakin nyaman bagi pengunjung maupun masyarakat sekitar,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Muchammad Fatchan, mengatakan Pasar Kuliner Jadul digelar untuk mengangkat kembali makanan tradisional yang kini mulai ditinggalkan masyarakat.
“Kami ingin mengenalkan kembali makanan-makanan lama yang sehat dan pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Generasi muda perlu mengetahui bahwa kita memiliki banyak warisan kuliner yang patut dijaga dan dilestarikan,” katanya.
Menurut Fatchan, seluruh pelaku UMKM yang terlibat berasal dari wilayah sekitar Menara Kudus dan desa-desa penyangga sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
“Peserta pasar kuliner ini berasal dari UMKM lokal di sekitar kawasan Menara Kudus. Harapannya kegiatan ini bisa membantu meningkatkan pendapatan warga sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pasar Kuliner Jadul akan berlangsung selama rangkaian Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus hingga 24 Juni 2026. Selain menikmati suasana religius dan budaya di kawasan Menara Kudus, masyarakat juga dapat bernostalgia melalui beragam sajian kuliner tradisional yang kini semakin jarang ditemukan.***
