Tak hanya menyasar peserta didik, pemerintah juga memperkuat kualitas tenaga pendidik melalui program beasiswa sarjana (S-1) bagi guru yang belum memenuhi kualifikasi akademik.
“Tahun ini kami menyediakan sekitar 150 ribu kuota beasiswa bagi guru yang belum S-1, baik guru negeri maupun swasta, termasuk guru PAUD, TK, dan pendidikan nonformal. Beasiswa diberikan sebesar Rp3 juta per semester melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL),” jelasnya.
Selain itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menjalankan program Satu Hari Belajar Guru, yakni pelatihan rutin yang difasilitasi Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK), serta komunitas guru untuk meningkatkan kompetensi pendidik.
Abdul Mu’ti menegaskan guru taman kanak-kanak memiliki peran yang sangat strategis karena menjadi orang pertama yang membangun fondasi karakter dan kebiasaan belajar anak.
“Kalau pendidikan diibaratkan menanam pohon, maka pendidikan anak usia dini adalah menanam akar. Akar yang kuat akan menghasilkan pohon yang kokoh. Karena itu guru TK memiliki tugas yang sangat mulia,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar proses pembelajaran di TK tidak terlalu menekankan aspek akademik. Menurutnya, pendidikan usia dini harus lebih diarahkan pada pembentukan karakter, kemampuan motorik, bahasa, kreativitas, keberanian, dan kemampuan bersosialisasi.
“Jangan sampai anak TK dibebani pelajaran yang tidak sesuai usianya. Yang paling penting adalah mereka senang belajar, tumbuh percaya diri, mengenal aturan sosial, dan memiliki karakter yang baik,” tegasnya.***
