Lima Kematian Ibu Terjadi, Upaya Pemkab Kudus Setop Kasus Lewat Inovasi Kencan Bumil dan Parijata

Kasus kematian ibu di Kabupaten Kudus masih menjadi fokus perhatian dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK). (Foto: Istimewa)

Sementara itu, program Parijoto secara khusus diarahkan untuk ibu hamil yang memiliki risiko tinggi. Pendampingan dilakukan lebih intensif dengan melibatkan bidan desa sebagai pendamping sekaligus penanggung jawab pelayanan kesehatan di wilayahnya.

“Untuk ibu hamil risiko tinggi, pendampingannya lebih khusus. Kader bersama bidan desa harus mengetahui kondisi ibu dan melakukan pemantauan, sehingga apabila ada risiko bisa segera ditindaklanjuti,” jelas Endhah.

Sementara itu, Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam menambahkan, pelaksanaan peluncuran inovasi Kencan Bumil dan Parijata di Desa Getasrabi bukan tanpa alasan. Hal ini karena kasus kematian terbanyak terjadi di Kecamatan Gebog.

Bacaan Lainnya

“Jadi, di Desa Getassrabi karena memang, saya tahu di Kudus itu ada lima kematian ibu hamil, ya. Empat kasus di antaranya itu daerah Kecamatan Gebog. Tujuan kami agar pemantauan ibu hamil bisa optimal,” tandasnya.

Adapun penyebab kasus kematian ibu di Kabupaten Kudus, lanjut dr. Hakam, mayoritas karena masih ada perempuan di usia yang risiko tinggi kehamilan masih hamil.

“Penyebabnya, itu ternyata salah satunya karena proses untuk KB-nya itu kan problem di kita itu, satu dari tiga itu usia 42 tahun, bayangin. Intinya di atas 35 tahun itu masih hamil, jadi risiko tinggi memang,” terangnya.

Pihaknya pun berharap, dengan hadirnya inovasi Kencan Bumil dan Parijata di Kabupaten Kudus, dapat menjadi jalan alternatif bagi upaya pemantauan kesehatan sekaligus edukasi bagi ibu yang sedang mengandung. ***