Libatkan Puluhan Ribu Murid, Kemendikdasmen Apresiasi Program Computational Thinking di Kudus Buahkan Hasil

Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI di GOR Djarum Jati, Kudus. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

KUDUS, ZONANEWS.ID —Penguatan keterampilan berpikir murid kian menjadi perhatian bagi pemangku kepentingan, guru, dan orang tua. Di Kabupaten Kudus, pembangunan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah bagi murid ini didorong, salah satunya melalui penerapan berpikir komputasional di tingkat PAUD, sejak 2023.

Djarum Foundation menginisiasi penguatan kompetensi guru, serta penerapan pembelajaran mendalam bagi murid, dengan keterlibatan orang tua. Hadirnya Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI, yang dipadukan dengan literasi fisik, pun menjadi ruang untuk menstimulasi kapasitas murid sekaligus mendorong mereka untuk bergerak aktif.

Kemendikdasmen pun mendorong agar praktik baik yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini untuk ditularkan ke tempat-tempat lain.

Bacaan Lainnya

Sebagai keterampilan seumur hidup yang dibutuhkan pada abad ke-21, lembaga internasional seperti Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) merekomendasikan penerapan berpikir komputasional, sejak murid mulai mengembangkan keterampilan dasar dan numerasinya.

Pasalnya, berpikir komputasional berdampak positif terhadap pemahaman murid terkait proses penyelesaian masalah secara menyeluruh. Melalui pembiasaan dalam pembelajaran, murid belajar tentang struktur dan penalaran masalah secara kontekstual dalam aktivitas sehari-hari, yang pada akhirnya turut berdampak pada peningkatan kapasitas literasi dan numerasi mereka.

“Festival Berpikir Komputasional 2026 ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM. Praktik baik (untuk pelatihan dan pendampingan, serta festival) yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain,” kata Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto.

Hingga kini pelatihan sudah menjangkau 46 PAUD/RA, 22 SD/MI, melibatkan 1.111 guru, 23.356 murid yang terlibat praktik berpikir komputasional menggunakan berbagai sarana seperti kartu pembelajaran, permainan papan, teka-teki, dan aktivitas gerak.

Adapun perkembangan kemampuan murid selama program pelatihan pun diukur melalui tantangan BEBRAS, inisiatif internasional dengan soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang mengasah kemampuan berpikir komputasional dan pemecahan masalah.

Rata-rata skor murid pun meningkat dari 34,52 menjadi 88,34, yang mengindikasikan korelasi positif antara penerapan berpikir komputasional dan kemampuan murid.

“Berpikir komputasional bukan sekadar tentang coding atau mengenal komputer, tetapi cara berpikir yang mengajarkan anak untuk memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah-langkah yang logis untuk menyelesaikan persoalan. Berkaitan dengan itu, kita tidak boleh berhenti membina anak-anak sejak dini sebab generasi yang terbiasa berpikir runtut dan logis sejak kecil, kelak akan menjadi generasi yang membawa kemajuan. Kami juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Djarum Foundation yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan, hingga Festival Berpikir Komputasional ini secara konsisten,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus Anggun Nugroho, mewakili Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dalam sambutan.

Kreativitas Guru dalam Implementasi Berpikir Komputasional