Di sejumlah sekolah di Kabupaten Kudus, berpikir komputasional diterapkan secara kreatif, melalui sejumlah aktivitas sederhana yang diinisiasi Guru. Adapun berbagai aktivitas itu dirancang untuk memenuhi prinsip berpikir komputasional, yang meliputi dekomposisi (memecah masalah kompleks menjadi bagian yang lebih kecil), pengenalan pola, abstraksi (dengan memilih informasi yang relevan), serta algoritma (untuk menyusun langkah penyelesaian secara runtut).
Di SD 3 Kalirejo misalnya, guru mengajak murid untuk menyusun rute paling efisien untuk berangkat ke sekolah.
Di SD Muhammadiyah Birrul Walidain, berpikir komputasional diintegrasikan ke dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) melalui kegiatan mengurai masalah, menemukan pola, dan mengelompokkan informasi pada topik sistem pernapasan.
Sementara itu, di SD 1 Barongan, guru menganalisis pola keterlambatan siswa untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan mencari solusi bersama.
Berbagai aktivitas ini sengaja mengombinasikan antara prinsip-prinsip berpikir komputasional dengan literasi fisik.
Pasalnya, dalam survei keterampilan sosial emosional dari OECD di Kabupaten Kudus (2023), ditemukan bahwa 55 persen murid berusia 15 tahun di Kabupaten Kudus memiliki pola perilaku tidak sehat dengan jarang berolahraga, dan tidak makan buah, sayur hampir tiap hari.
“Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri. Mencermati sejumlah riset yang menyebut korelasi antara berpikir komputasional dengan kapasitas murid, yang tercermin di standar PISA, kami harap dalam 10-15 tahun mendatang, kemampuan murid seluruh sekolah di Kudus dalam asesmen PISA mencapai standar kompetensi setara dengan rata-rata OECD, sekaligus memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan yang lebih tinggi daripada rata-rata,” ujar Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa.
Lebih lanjut, Djarum Foundation berkomitmen untuk melanjutkan dan secara bertahap memperluas program penguatan berpikir komputasional ke jenjang pendidikan berikutnya. Berkolaborasi dengan pemerintah, satuan pendidikan, guru, dan berbagai mitra, praktik baik yang telah dikembangkan akan menjangkau lebih banyak siswa, sehingga berkontribusi positif bagi peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.
