Rangsangan dari lingkungan dan gerakan tubuh tersebut selanjutnya diproses oleh sistem saraf serta otak sehingga anak mampu mengenali dan memberikan respons terhadap pengalaman yang diperolehnya.
“Anak belajar tidak hanya dengan mendengar penjelasan. Mereka perlu melihat, menyentuh, bergerak, merasakan, mencoba, dan mengeksplorasi. Dari pengalaman itulah proses belajar dapat tumbuh secara lebih alami,” kata Yani.
Menurutnya, pengalaman belajar berbasis stimulasi sensori dapat membantu memperkuat berbagai aspek perkembangan anak, seperti kemampuan kognitif, motorik, bahasa, dan emosional.
Karena itu, guru didorong untuk mengembangkan aktivitas belajar yang memungkinkan anak terlibat secara aktif melalui pengalaman langsung.
Para peserta workshop juga diajak mengeksplorasi berbagai contoh aktivitas yang dapat diterapkan di lingkungan KB dan TPA.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi dapat dikembangkan menjadi praktik pembelajaran yang menyenangkan dan relevan dengan kebutuhan anak di masing-masing lembaga.
Ketua PD Aisyiyah Kabupaten Kudus, Eny Alifah Kurnia, berharap pengetahuan yang diperoleh selama workshop dapat diterapkan secara konsisten oleh para pendidik.
“Kami berharap para pendidik terus menjadi pembelajar yang berkesadaran, mengajar dengan ketulusan, mendidik dengan cinta, dan menginspirasi dengan keteladanan,” ungkapnya. ***
