Lewat “Bangun Pagi Bahagia”, Teater Qi Sentil Penguasa dan Potret Ketimpangan Sosial

Pementasan lakon "Bangun Pagi Bahagia" yang dibawakan Teater Qi di Gedung Auditorium Universitas Muria Kudus, Selasa, 29 September 2026. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

Pilihan tersebut menjadi bagian dari gambaran perubahan hidup yang kerap disimbolkan dalam puisi para aktor. Bahwa kesenian tak lagi mempesona dan tugas pemimpin adalah membuat rakyat dapat bangun pagi bahagia sebagai sentilan terhadap penguasa.

Sutradara pentas Rias Viri menyebut, lakon “Bangun Pagi Bahagia” di Kudus menjadi salah satu lokasi tur pementasan di empat kota yang dibawakan Teater Qi asal Tegal.

Sebelumnya, Teater Qi telah menyambangi Taman Budaya Tegal pada 26 September, melanjutkan tur pentas ke Rumah Seni Banjarsari Solo pada 2 Oktober, dan Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta pada 3 Oktober.

Bacaan Lainnya

Riris menyebut, pentas malam itu tak hanya menceritakan tentang perjalanan tiga remaja dengan persoalan dan latar belakang yang berbeda. Ada pertemuan, persahabatan, keluarga, kehilangan, cinta, kemiskinan, pekerjaan, harapan, juga berbagai cara manusia bertahan hidup ketika zaman terus berubah. Naskah ini dipilih karena persoalannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Pada akhirnya, perjalanan tidak selalu membawa setiap orang menuju tempat yang sama,” ujar Riris usai pentas, Selasa (29/9).

Menariknya, cerita yang dihadirkan dalam pertunjukan tersebut dikemas seolah-olah lahir dari kehidupan masyarakat Tegal sendiri. Situasi, lokasi, kebiasaan, dialek, hingga beberapa peristiwa diadaptasi ke konteks sosial dan budaya Tegal. Dengan bahasa tubuh yang disesuaikan kebutuhan cerita, suara aktor yang tidak diproyeksikan berlebihan serta lebih mengutamakan ritme percakapan.

Baginya, adaptasi tersebut justru membangun kedekatan yang lebih intim, personal dan sederhana kepada penonton. “Ada cerita tentang persahabatan, refleksi mengenai waktu, pilihan hidup, penantian, serta kemampuan manusia menerima kenyataan,” bebernya.

Lewat pementasan tersebut, Teater Qi seakan mengajak penonton untuk kembali bertanya pada diri sendiri dan melihat dengan cara sederhana. Setelah perjalanan panjang dan berbagai persoalan kehidupan, apa sebenarnya yang membuat kita merasa bahagia ketika bangun pagi dan menjalani hari esok dengan penuh ceria.

Dari lima fragmen dalam naskah asli Andy SW, Teater Qi mengolah empat fragmen utama: Fragmen Masa Remaja (Keluarga dan Kehilangan), Fragmen Kota (Bekerja untuk Hidup), Fragmen Kisah Cinta, dan Fragmen untuk Masa Depan. Fragmen terakhir menjadi ruang untuk melihat kembali seluruh perjalanan.

Karena barangkali, kata dia, bangun pagi dan bahagia bukanlah tentang menemukan akhir yang paripurna, tetapi juga tentang pilihan untuk kembali menjalani hari esok dengan keberanian. ***