Kudus Kaya Tradisi, Musthofa Dorong Ampyang Maulid Selaras dengan Semangat Gusjigang

Anggota Komisi XI DPR RI, Musthofa. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

Masjid At-Taqwa juga telah menjadi salah satu ikon yang perlu terus dilestarikan. Musthofa berharap pemerintah desa hingga pusat dapat membangun sinergi agar potensi budaya di berbagai wilayah Kudus dapat dikembangkan menjadi ikon bersama.

Musthofa kemudian mengaitkan pelestarian tradisi dengan filosofi masyarakat Kudus, yakni “Gusjigang” yang berarti bagus, ngaji, dan dagang. 

Ia berharap generasi muda tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tetap menjaga akhlak, meningkatkan pengetahuan sesuai perkembangan zaman, serta memiliki semangat kewirausahaan. 

Bacaan Lainnya

“Republik ini adalah butuh pemimpin-pemimpin yang baik, mulai dari tingkat desa sampai tingkat pusat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Loram Kulon, Mohammad Wahyu Saputro menyebut, ada lebih dari 47 kontingen kirab yang ikut dalam gelaran tradisi kali ini. Tema kirab sendiri yakni Kearifan Lokal, dengan menampilkan potensi desa seperti hasil bumi.

“Tradisi Ampyang Maulid ini sebagai wujud syukur masyarakat Desa Loram atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kalau untuk nasi kepel dan kerupuk ampyang ini sebagai wujud sodaqoh masyarakat Loram,” katanya.

Nasi kepel sendiri, muncul usai Sultan Hadirin yang merupakan tokoh penyiar agama di wilayah setempat, yang sering membawa bekal saat melakukan siar. Sedangkan, ampyang merupakan kerupuk warna-warni yang menjadi hiasan.

“Tradisi ini sudah lama dan Alhamdulillah dari tahun ke tahun antusiasme warga luar biasa,” tukasnya.