Lagi-lagi kita disodori adegan penutup paling satir, Petruk orang yang paling miskin, lugu, dan bodoh, berhasil menipu dan memperdaya Bagong yang pengusaha sukses, Semar yang hakim bijaksana, dan Gareng yang pengacara terpelajar.
Pentas berdurasi hampir satu jam ini dipentaskan di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) pada Sabtu, 16 September lalu.
Rencananya, lakon tersebut akan kembali dipentaskan di Halaman Masjid Baitul Muttaqin, desa Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara, pada Sabtu, 7 Oktober mendatang, pukul 19:15.
Menurut Syamsu sebagai Sutradara, lakon adaptasi karya Anton Chekov ini hingga kini masih relevan untuk diangkat ke atas panggung. “Sebagai gambaran dan tentu saja kritik terhadap perilaku kita. Yang menarik, adegan-adegan dalam pentas ini dipenuhi dialog dan adegan yang mengundang tawa. Seolah-olah penonton tengah mentertawakan sifat jelek dirinya sendiri”.
Acara ini sendiri dipandegani oleh pemuda desa Margoyo, Jepara, Gabungan Pemuda Mars dan Karangtaruna setempat.
Sebelumnya akan dibuka pentas musikalisasi puisi oleh Kustik Keset, Pipiek Isfianti, dan Retno Kencono Arum Tsurayya. ***
