Jazz Atas Awan, Konser Ikonis Puncak Gemilang Dieng Culture Festival XIV 2024

Sekitar 6.000 pengunjung Jazz Atas Awan serentak menerbangkan lampion mereka, menciptakan pemandangan yang magis di langit malam Dieng. (Foto: YM) Dengan diiringi lagu "Tanah Airku," prosesi penerbangan lampion berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Ribuan lampion beraneka warna menghiasi langit Dieng, membuat suasana malam itu semakin syahdu.

BANJARNEGARA, ZONANEWS.ID — Menjelang malam pada hari kedua Dieng Culture Festival (DCF), suasana Dieng mulai dipadati oleh pengunjung yang menantikan puncak acara DCF, yaitu Jazz Atas Awan.  Reportase langsung dari dua reporter Zonanews.id, Siti Islamiah dan Nila Rustiani, yang hadir di tengah-tengah ribuan penonton pada puncak rangkaian agenda DCF XIV 2024.

Festival musik ini tidak hanya menawarkan alunan musik jazz yang menenangkan, tetapi juga pemandangan alam Dieng yang memukau. Dengan latar belakang pegunungan dan suasana yang sejuk, Dieng Jazz Festival menjadi destinasi yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kota dan menikmati musik dalam suasana yang damai dan magis.

Festival ini telah menjadi salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan di Indonesia. Dieng Jazz Festival menarik ribuan pengunjung setiap tahun, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Para pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati musik, tetapi juga untuk merasakan keindahan dan kedamaian alam Dieng.

Bacaan Lainnya

Berlangsung dalam suasana dingin yang bersuhu 8 derajad celcius,  disalah satu venue yakni lapangan Dieng Kulon. Jazz Atas Awan telah menjadi simbol dan daya tarik utama dalam setiap gelaran DCF. Meski tidak ada promosi besar-besaran tentang siapa saja artis yang akan tampil, acara ini tetap berhasil menarik ribuan pengunjung.

“Bahkan panitia sengaja tidak mengumumkan siapa artis yang bakal dihadirkan di arena jazz tersebut.  Mereka ingin mengembalikan nuansa kejutan seperti dulu, biarkan pengunjung menikmati siapa pun yang tampil di panggung tanpa ekspektasi tertentu,” ujar inisiator Jazz Atas Awan Budhi Hermanto seperti dilansir Antara.

Penampilan Musisi Danilla Riyadi di panggung Jazz Atas Awan

Pihak panitia menegaskan disebabkan sejak awal pergelaran DCF, acara Jazz Atas Awan hanya sebagai kegiatan pendukung, sehingga pihaknya tidak “menjual” artis.

“Jadi, kalaupun ada artis ternama yang tampil, ini adalah bonus bagi para pengunjung, kehadiran artis ternama dalam acara ini lebih dianggap sebagai bonus, sementara esensi dari Jazz Atas Awan adalah pengalaman menikmati musik di tengah ketinggian Dieng yang sejuk,” katanya pula.

Sesi pertama Jazz Atas Awan dimulai sekitar pukul 17.00 WIB, dengan penampilan dari musisi lokal yang menyuguhkan lagu-lagu bernuansa akustik. Suasana yang hangat dan akrab tercipta di antara penonton yang hadir, meski udara dingin mulai merayap seiring dengan turunnya matahari.

Penampilan ini menjadi pembuka yang tepat sebelum sesi kedua dimulai, di mana bintang tamu utama akan tampil.

Pada sesi kedua, panggung Jazz Atas Awan dipanaskan oleh penampilan dari tiga musisi ternama: Danilla Riyadi, Parade Hujan, dan Pradikta Wicaksono.

Penampilan Parade Hujan atau yang dahulu dikenal sebagai Payung Teduh (Foto: YM)

Parade Hujan, yang sebelumnya dikenal dengan nama Payung Teduh, sukses membawakan beberapa lagu hits mereka, seperti “Untuk Perempuan dalam Pelukan,” “Akad,” dan “Menuju Senja.” Lagu-lagu ini berhasil menciptakan kehangatan di tengah dinginnya malam di Dieng, membuat penonton larut dalam suasana.